Langkah Gubernur Kalteng Sugianto Sabran Lahirkan SDM Berkualitas Untuk Indonesia : Okezone News

Quo Vadis Pendidikan di Papua - Papua Bangkit 1) Memasukkan pendidikan Islam ke dalam kurikulum pendidikan umum di sekolah negeri maupun swasta melalui pelajaran agama. Selain itu, dalam usaha untuk menghambat kesempatan belajar itu, maka pemerintah memberlakukan pula persyaratan-persyaratan tertentu, sehingga dari beberapa segi diduga memberatkan bagi murid-murid golongan pribumi. Sekolah-sekolah yang telah didirikan hanya diutamakan bagi anak-anak pegawai pemerintahan dan orang-orang yang berasal dari golongan berada. Pendidikan dari sekolah rendah sebenarnya hanya diperuntungkan bagi anak-anak dari kalangan orang Belanda yang pada saat itu berada di Indonesia. Di Sparta anak-anak diperlakukan dengan sangat kejam. Hal ini tentu penyebabnya adalah melemahnya kekuatan politik islam walaupun islam di indonesia mencapai jumlah yang sangat banyak. Maksudnya ialah bahwa pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya. Dengan begitu dapat mempunyai kekuatan dalam jiwa keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang berkarakter, kecerdasan, berakhlak yang mulia serta memiliki keterampilan yang nantinya diperlukan oleh dirinya didalam kehidupan di lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara. Didalam era globalisasi, pentingnya pendidikan karakter merupakan upaya dalam membangun karakter bangsa agar tidak kalah dalam persaingan global. Diantara kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam belajar di Surau adalah Daqaiq al-huruf, Umdat al-Muhtajin ila suluk Maslah al-Mufradain, Majmu’ al-Masail, al-Mawaiz al-Baidah, Risalat fi Bayan Syurut al Syaikh wa al Murid.

Definisi pendidikan khas᠎Th is a rt᠎icle w​as written by GSA Conte nt Gener᠎at or᠎ Dem​oversion​!


Dari segi pendidikan, lembaga Surau Syekh Burhanuddin ini tidak terlihat dengan jelas kualifikasi dan karakteristiknya sebagimana lengkapnya sebuah lembaga pendidikan Islam, seperti adanya metode, kitab-kitab yang dijadikan seumber pembelajaran, struktur dan jenjang pendidikan, jangka waktu pendidikan, yang dapat di duga bahwa di Surau ini berlangsung pengajaran dan pengenalan hukum syari’at dan cara-cara membaca Al-Qur’an. Dalam hubungannya dengan kepentingan itu, maka para penyusun konsep pendidikan, agaknya tak dapat melepaskan diri dari kondisi sosial ekonomi dan politik pemerintahan pusat Nederland, dan kaitannya dengan kepentingan politik Hindia Belanda. Sejalan dengan kepentingan politik kolonialnya itu, maka sistem pendidikan di Hindia Belanda harus disusun berdasarkan kepentingn Belanda sebagai penjajah. Ini terbukti pada puncak Perang Dunia II ketika Jepang mengalami tekanan hebat dari sekutu, maka mulai saat itu pula Jepang menampakkan sikap kesewenang-wenangan sebagai penjajah yang mengakibatkan penderitaan lahir batin rakyat Indonesia, khususnya orang-orang Islam sebagai penduduk mayoritas. 1. Pengembangan potensi lahir - Pendidikan membantu anak untuk mengembangkan potensi bawaan sejak lahir yang menyediakan ruang untuk berkembang. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.


Belanda juga tidak mau mengakui lulusan-lulusan pendidikan tradisonal kerena mereka dianggap tidak bisa bekerja di pabrik maupun sebagai tenaga birokrat. Jelasnya madrasah dan pesantren dianggap tidak berguna dan tingkatannya rendah, sehingga disebut sekolah desa. Di samping ilmu-ilmu pokok tersebut, Surau sebagai lembaga pendidikan Islam banyak mengambil spesialisasi, diantaranya, Surau Kamang spesialisasinya ilmu alat, Surau Kota Gadang spesialisasi dalam ilmu mantiq dan ma’ani, Surau Sumanik dalam studi Hadits, Tafsir dan Faraid, Surau Koto Tuo dikenal dengan studi tafsirnya, Surau Syekh Abdurrahman di Batu Hampar yang memiliki ciri pembelajaran hafidz dan Qira’at al Qur’an. Semesta dalam arti terbuka bagi seluruh rakyat, dan berlaku di seluruh wilayah negara, menyeluruh dalam arti mencakup semua jalur. Dengan demikian, dari berbagai segi, kesempatan belajar bagi pendidik pribumi di sekolah-sekolah pemerintah senantiasa mendapat hambatan. Dari 21.255 sekolah dasar dengan jumlah murid 88.233 orang, ternyata lulus 7.790 orang, yaitu sekitar 8,5% saja. Mereka yang lulus bersekolah di sekolah dasar sementara mereka yang gagal pergi ke sekolah menengah modern. Mereka bermukim di Makkah menuntut ilmu bertahun-tahun. Pada waktu itu di Makkah ada alim ‘ulama (guru besar) dari Indonesia seperti Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, imam Mahzab Syafi’i di mesjid al-Haram, Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Arsyad al-Banjari, dan lain-lain. Jadi dengan demikian bahwa kurikulum yang digunakan pada masa pendidikan kolonial berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada.


Sistem pendidikan di Surau tidak mengenal jenjang atau tingkatan kelas, murid dibedakan sesuai dengan tingkat keilmuannya, proses belajarnya tidak kaku sama muridnya (Urak Siak) diberikan kebebasan untuk memilih belajar pada kelompok mana yang ia kehendaki. Pada tahun 1942 Jepang secara resmi menguasai Indonesia setelah panglima tertinggi Belanda menyerah. Pemerintah dan rakyat membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Kedua, secara berangsur-angsur dan terarah menjauhkan rakyat pribumi dan keterkaitan dengan ajaran mereka (Islam) melalui sekolah-sekolah pemerintah yang netral agama. Adapun murid-muridnya tidak lagi terbatas pada golongan bangsawan dan kalangan keraton, tetapi juga termasuk rakyat jelata. Golongan liberal kemudian berupaya mengadakan perubahan, antara lain dengan mengeluarkan peraturan anggaran dalam Undang-Undang. Keadaan seperti ini sempat dipertentangkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak senang dengan adanya pendidikan agama, terutama golongan komunis, sehingga ada kesan seakan-akan pendidikan agama khususnya Islam, terpisah dari pendidikan. “Ketersediaan sarana prasarana yang memadai terutama ruang belajar yang tercukupi dan nyaman, merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan pendidikan, untuk itu Pemprov Kalteng terus berupaya membangun sarana prasarana pendidikan yang memadai,“ ucapnya. Karakter yang satu ini merupakan hal penting untuk ditanamkan pada setiap individu. Pada 1814 non-konformis (Protestan yang bukan milik Gereja Inggris) membentuk British and Foreign Schools Society.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama